Total Pageviews

Follow Instagram

Clock

Flag Counter

Followers

Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Wednesday, 17 May 2017

House of Naynay : Rumah Baca, Bermain dan Berkreasi

 
 
💐 SELAMAT HARI BUKU NASIONAL (17/05/17)💐

 

     Teringat hadist Rasulullah agar kita menjadi sebaik-baiknya manusia, yaitu paling yang bermanfaat bagi orang lain. Pernah denger ceramah, bahwa yang ditinggalkan manusia itu cuma 3 hal : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang shalih.

      Awalnya dari situlah sempat punya cita-cita pengen bikin panti asuhan dan sekolah TK, karena sadar akan umur yang bertambah tapi amal tak bertambah dan ada perasaan ganjal karena belum merasa menjadi sebaik-baiknya manusia. Tapi koq ya seperti ribet ngurus izinnya dan takut dosa jika tak amanah dalam menjalankan, miris lihat berita di tv tentang berbagai masalah panti asuhan yang gak amanah. Lalu, muncul banyak rumah tahfidz dimana-mana. Keinginan itu pun ada, tapi lagi-lagi mentah. Lah wong daku aja juga perlu banyak belajar dan mengkaji Al-Quran, wkwkww..

     Gak pernah terfikir bakal ada niat pengen bikin rumah baca, padahal dulu klo lagi baca buku pelajaran aja suka ketiduran, hihii.. Tapi lain halnya klo buku cerita, komik atau majalah, Saya suka! 

     Entah kenapa tetiba muncul ide ini pas lagi nongkrong ama bebeb, apalagi mengingat di Kota Batam ini sedikit sekali ada sarana seperti itu buat anak-anak. Dia sangat mendukung dan ketika diutarakan ke mama, gak disangka respon mama juga bagus, malah ikutan nyumbang mainan anak, hikss terharu..

    
Sepertinya ini lah yang sedikit lebih simpel untuk dijalankan, tentunya juga berharap dukungan dan doa dari teman" untuk kelancaran pendirian rumah baca, bermain & berkreasi "House of Naynay" ya :)

 
 
Bismillah,, New concept!

      Coba mengalihkan merek toko online saya untuk kegiatan sosial, semoga dimudahkan transformasi "House of Naynay" menjadi Rumah Baca, Bermain & Berkreasi.. Opening soon.. June 2017!

     Insyaallah gratis baca disini, moga bisa jadi wadah yang bermanfaat untuk anak" sekitar perumahan KDA maupun anak" di Batam umumnya. Mohon doa dan supportnya ya manteman.. Klo ada buku cerita anak bekas ataupun baru mo disumbangin, siap sedia qta tampung dan untuk wilayah Batam bisa kita jemput.
 

      Jazakumullahu khairan katsira, terimakasih atas perhatiannya.

Berminat jadi donatur buku bacaan bekas untuk anak-anak bisa langsung telp/wa 085364373686 atau Follow akun dibawah ini ya..
 
Instagram : @houseofnaynay
Facebook : House of Naynay
Email : infohouseofnaynay@gmail.com
 

#rumahbaca #rumahbacabatam #perpustakaananak #pustakabatam #donaturbuku #sumbanganbukubekas #bukubekas #bukuceritaanak #komik #playhouse #tempatbermaindibatam #readingcorner #clubbaca #clubbacabatam #rumahkreatif

Thursday, 11 August 2016

Kenapa Homeschooling??


Kembali menulis setelah blog ini sempat terabaikan setahun, ada yang berbeda dari gaya menulis dan inspirasi untuk menulis kali ini. Mungkin faktor "U" berpengaruh juga ya, hihii.. Sekarang lagi pengen bahas segala yang berbau parenting dan pendidikan anak. Karena sekarang posisi berubah jadi mother of two homeschooler kids! hohoo..


Kenapa Homeschooling ??
Lho koq homeschooling?? kenapa anaknya pindah ke homeschooling?? Ada masalah apa mbak?? Rata-rata itu lah pertanyaan yang sering dilontarkan teman-teman saat mengetahui bahwa sekarang anak-anak pindah ke sekolah yang berbasis homeschooling. Capek juga ya klo tiap ketemu satu per satu orang harus dijelaskan alasan kenapa sekarang pilih HS untuk anak-anak, hahaa...

Sebelum memutuskan mantap di HS ada beberapa alasan yang mendasari kenapa memindahkan anak dari SDIT ke HS, diantaranya :

1. Kembali ke Tujuan Awal
Sebenarnya rancangan untuk HS ini udah direncanakan sejak nayra umur 3th loh,, buktinya sampe bikin baju kaos yang tagline-nya "Nayra Homeschooling with Bunda". Niat banget khan pengen anaknya belajarnya HS, hihii.. 


Jadi bukan ujug-ujug pengen HS. Cuma waktu itu belum banyak informasi tentang apa itu HS, gimana cara jalaninnya, yang terlintas difikiran saat itu pengen anak belajar dirumah karena khawatir melihat perkembangan diluar sana yang menurutku semakin mengerikan. Sempet mikir apa harus resign dari kerjaan untuk bisa jadi full mother? Ditengah kegalauan dan ilmu yang kurang akhirnya aku menyerah. Impian untuk HS itu ditenggelamkan.

2. Bingung Memilih Sekolah  
Yup,, bingung banget saat itu. Karena di Batam untuk SDIT yang bagus dan terdekat dengan lokasi rumah gak banyak pilihannya. Klo SD Negeri gak mungkin, karena usia si kakak nanggung, karena lahir bulan September. Klo masuk tahun depan bisa ketuaan, jadi pilihannya memang harus ke swasta. Lagian memang kami tidak merencanakan untuk menyekolahkan di Sekolah Negeri, dikarenakan beberapa pertimbangan.

2x test di sebuah SDIT favorit tapi ternyata Nayra belum diterima, mungkin waktu itu karena quota yang diterima cuma sedikit dan lebih diutamakan yang berdomisili di komplek area sekolah tsb. Hingga akhirnya ada satu SDIT favorit lainnya yang bersedia menerima Nayra. Walopun agak jauh dari rumah, tapi demi si Kakak apapun bunda lakukan deh..*smile emoticon*  

3. Anak Bosan dan Mogok Sekolah  
Saat si kakak di kelas 1 SD, dia sangat senang sekolah karena punya banyak teman bahkan wali kelasnya itu jadi Guru Favoritnya. Saking sayangnya sama gurunya, sampe pas hari guru tiba Nayra sempetin nulis surat diam-diam untuk gurunya tsb. Dan sampai sekarang nayra belum bisa move on dari guru tsb.

Ketika naik kelas 2 SD, suasana teman berubah, guru juga berganti dan pelajaran dan tugas semakin banyak. Berbeda dengan saat kelas 1 yang masih banyak bermain sambil belajar, kini si kakak sudah punya tanggung jawab untuk belajarnya. Kelihatan sekali diawal semester, Nayra kurang bisa menyesuaikan keadaan dan gak bisa move on dari kelas tercintanya saat kelas 1. Ada aja alasan yang diadukan, capek lah, minta balik kelas 1 lagi lah, minta tetap diajar sama guru favoritnya dulu lah, gak nyaman dengan teman-teman laki-laki yang suka mengganggunya, hingga akhirnya berkata ingin pindah sekolah.

Semakin hari sepertinya Nayra kurang bisa menikmati sekolahnya, apalagi belajarnya hampir full day dan setiap pulang sekolah hati ini lama-lama gak tega juga melihat dia terkapar di jok belakang mobil saat dalam perjalanan pulang kerumah. 

Setelah diskusi panjang dengan ayahnya, akhirnya kami coba untuk mencari alternatif sekolah lain yang dekat dengan tempat tinggal dengan harapan Nayra bisa lebih enjoy sekolahnya. Lalu, ntah kenapa terlintas lagi tentang Homeschooling. Dan aku pun mulai sibuk mengumpulkan informasi tentang HS di Batam, mulai pantengin buku-buku dan artikel di sosmed dari pakar parenting dan HS seperti Ayah Edi, Kak Seto, Bunda Elly Risman, dan follow beberapa akun HS di luar Batam.

4. Si bungsu belum lancar berkomunikasi
Anak kedua kami agak lebih unik dari kakaknya, walaupun cewek tapi super aktif dan bisa berhenti dari kegiatannya cuma saat tidur. Tapi kendalanya cuma satu, komunikasi masih belum lancar, waktu adek umur 3th malah masih komunikasi dengan bahasa planet.Dan yang membuat khawatir karena sekarang sudah 4,5th tapi kosakata belum banyak. Padahal untuk anak seusianya itu harusnya sudah bisa bercerita dan mengarang cerita. Malah sepupunya yang berusia 3th lebih lancar komunikasinya.

Hal itu yang membuat kami gak tenang karena khawatir adek kenapa-napa. Kami mencoba konsultasi ke beberapa dokter anak dan terakhir ke sampai di rujuk ke dokter fisioterapi, Alhamdulillah hasilnya masih normal. Cuma memang perlu kesabaran dalam melatihnya. Pernah kemarin coba masukkan ke PG cuma adek gak betah dan kadang terkendala saat antar jemputnya karena jaraknya agak jauh dari rumah.

Beruntung akhirnya saat browsing internet ketemu dengan HS Muslim di Batam yang membuka program SD dan Toddler. Dan senangnya lagi ternyata lokasinya masih satu komplek di perumahan yang sama dengan lokasi kami tinggal. Maklum jarang keliling, jadi gak tau klo ternyata ada HS di komplek sendiri. Happy deh! gak repot lagi dengan rutinitas antar jemput sekolah, sekolahnya bisa barengan dan kakak bisa mengawasi adeknya. Dan yang utama biar enjoy belajarnya sehingga bisa fokus kembangkan bakat dan minatnya untuk masa depan.

Memang berat sebenarnya memindahkan si kakak dari sekolah lamanya, karena memang disadari hubungan kekeluargaan dengan orang tua murid disana sangat dekat. Cuma si Adek tidak mungkin dimasukkan ke sekolah formal yang muridnya banyak. Takut sekolahnya nanti gak bisa handle adek shayna dengan keunikannya itu. 

Berkenalan dengan Homeschooling AlKindi Mahardika

Setelah dapat informasi, langsung lihatin si Kakak video profile sekolahnya yang kebetulan ada di Youtube. Si kakak antusias sekali, dan sempat 2x kami berkunjung ke lokasinya biar kakak lebih yakin dengan keputusan yang dia ambil. Sekolah ini ternyata sudah berdiri sejak 2012 dibawah Yayasan Al Kindi, yang fokus pada pendidikan akhlak dan karakter anak. Dengan visi "Menciptakan Generasi Yang Sholih, Mushlih dan Produktif”


sedang Misi Sekolahnya :

- Memberi layanan pendidikan personal

- Melaksanakan pendidikan yang membangun semangat belajar seumur hidup

- Melaksanakan proses pendidikan yang eksploratif terhadap lingkungan sekitar

- Melaksanakan proses pendidikan yang melatih lifeskill

 

 
Alhamdulillah cocok sekali dengan kriteria sekolah yang kami harapkan. Awalnya suami juga ragu, bagaimana ijazah anak-anak nanti katanya? setelah dijelaskan ternyata sekarang malah dia yang sangat mendukung HS. Apalagi saat mengetahui ada beberapa temannya yang anaknya juga HS, bahkan anak atasannya mengajar HS sendiri untuk anak-anaknya, padahal anaknya bukan anak berkebutuhan khusus atau anak bermasalah, seperti yang masyarakat awam sering labelkan kepada anak-anak HS.  

Pendiri HS Alkindi adalah Ibu Kiki Barkiah, saya coba mencari tahu siapa bu Kiki ternyata beliau seorang penulis buku parenting dan seorang ibu dari 5 orang anak homeschooler. Wah senang sekali anak-anak bisa bergabung di sekolah yang langsung dibimbing beliau. Saya jadi punya sumber ilmu parenting lagi melalui tulisan beliau.

Harapan kami sebagai orangtua semoga anak-anak senang belajar dan bermain di Al Kindi, terus jadi anak sholehah dan kelak bermanfaat bagi sesama. Aamiin. Begitulah lika liku nya kenapa kami sekarang memilih HS sebagai sarana belajar anak-anak kami. Insyaallah bahasan tentang HS Al Kindi akan di share di pos berikutnya.  


Tags : Kenapa Homeschooling, Apa itu Homeschooling, Homeschooling Muslim di Batam, Kiki Barkiah, Penulis Kiki Barkiah, HS Alkindi Batam, Serba serbi Homeschooling, Alasan Harus Homeschooling, Parenting, Pendidikan Akhlak dan Karakter                

Wednesday, 10 August 2016

Filosofi dan Praktek homeschooling ala keluarga Kiki Barkiah



Tulisan ini saya copas dengan izin dari Bu Kiki Barkiah yang merupakan pendiri Homeschooling Muslim Al Kindi Mahardika di Batam. Beliau adalah Pembicara dalam Seminar-seminar Parenting dan Seorang Penulis Buku Parenting. Terimakasih atas ilmu yang ibu berikan dan semoga bermanfaat untuk keluarga-keluarga pembelajar di Indonesia.


Filosofi dan Praktek homeschooling ala keluarga Kiki Barkiah


Tidak dapat dipungkiri bahwa pertambahan jumlah penduduk dunia akan memunculkan persaingan kompetensi dalam setiap bidang. Ketika kebutuhan hidup semakin meningkat namun lapangan pekerjaan semakin sulit, maka hanya orang-orang yang memiliki kualifikasi yang sesuai yang dapat bersaing memenuhi kekosongan peran dalam sebuah peradaban. Sayangnya kualifikasi tersebut ternyata tidak cukup dapat dipenuhi oleh mereka yang meraih gelar pendidikanapalagi jika menemmpuh pendidikan dengan sistem pendidikan ala Indonesia saat ini. Sulitnya menemukan sarana pendidikan yang sesuai untuk setiap keunikan potensi anak-anak, mendorong masyarakat Indonesia untuk melirik sistem pendidikan personal seperti Homeschooling. 

Kebanyakan calon orang tua homeschooler merasa kebingungan saat pertama kali memulai homeschooling. Perasaan tersebut sangatlah wajar, bahkan berdasarkan pengalaman saya berinteraksi dengan para homeschooler muslim di Amerika mereka pun merasakan hal yang sama. Satu tahun pertama biasanya menjadi ajang tambal sulam mencari format yang paling pas. Hal ini sangatlah wajar karena kondisi setiap anak dan keluarga sangat berbeda. apa yang bekerja dalam keluarga lain belum tentu dapat bekerja dalam keluarga kita. Meskipun begitu mendengar pengalaman berbagai keluarga homeschooler akan membuka cakrawala terhadap sekian pilihan cara yang dapat ita padu padankan sampai menemukan format yang paling sesuai dan paling mampu dilakukan oleh keluarga kita. 

Pertanyaan yang sering sekali disampaikan para calon homeschooler adalah "Saya Ingin menjalankan homeschooling, harus mulai dari mana? Saya biasanya menjawab untuk mulai dari mengumpulkan sekian alasan mengapa kita memilih homeschooling. Mengapa? karena homeschooling itu sangat berat. Saat kita merasakan kebingungan, kegalauan, kelelahan, bahkan perasaan hampir menyerah, maka alasan inilah yang cukup menentukan seberapa besar kemampuan kita untuk bertahan dan bangkit kembali unutk menjalankan homeschooling. Sebagian orang memilih homeschooling karena kondisi kesehatan anak yang tidak memungkinakan bepergian setiap hari. Sebagian orang memiilih homeschooling karena ingin folus dalam pembinaan agama atau menghafal quran. 


Sebagian orang memilih karena ingin memiliki lebih banyak waktu untuk mengembangkan minat bakat. Sebagian memilih karena kesibukan aktifitas anak-anak mereka seperti atlet atau artis misalnya. Sebagian memilih karena anak-anak mereka kesulitas bergabung dalam sistem sekolah yang bersifat masif. Beragama alasan yang melatar belakangi sebuah keluarga memilih homeschooling bahkan ada yang memilih karena sekedar menghindari biaya pendidikan yang mahal. Apapun alasannya hal itu merupakan hak sepenuhnya sebuah keluarga, namun kekuatan niat kita sangat berbanding lurus dengan keandalan kita dalam menghadapi setiap hambatan, tantangan, gangguan yang mungkin akan dihadapi saat melewat hari-hari sebagai seorang homeschooler. Maka bagi anda yang tengah mempertimbangkan homeschooling sebagai metode pendidikan anak-anak, ada baiknya untuk mendata sekian banyak alasan yang memperkuat pilihan anda. 

Pertanyaan selanjutnya yang sering disampaikan oleh para calon homeschooler adalah "Lalu bagaimana kurikulumnya?" Kurikulum homeschooling sebuah keluarga sangat tergantung dari tujuan dan cita-cita akhir yang inign dicapai oleh sebuah keluarga. Apakah mereka menjalankan homeschooling agar sekedar lulus paket a, b, c? Apakah untuk memiliki keahlian supaya dapat pekerjaan yang baik? Apakah tujuannya kelak agar bisa membuka usaha sendiri? Ataukah ingin fokus dalam hal pendalaman Al-quran? ataukah agar kelak bisa masuk surga? Tujuan dan cita-cita akhir ini yang sebaiknya di break down oleh keluarga homeschooling sengga dapat memutuskan cabang ilmu apa saja yang ingin dipelajari oleh anak-anak kita serta kapan waktu yang tepat untuk mempelajari cabang ilmu tersebut. Oleh karena itu, kurikulum, pelajaran, dan metode homeschooling disesuaikan dengan cita-cita, kemampuan dan dana keluarga masing-masing.

 

Pertanyaan yang harus dijawab untuk membantu kita menentukan kurikulum, jenis pelajaran, dan metode homeschooling ayang akan diambil adalah "Untuk Apa Anak Kita Belajar?" Bagi keluarga Kiki Barkiah, belajar itu bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jika proses belajar hanya melahirkan kebahagiaan dunia saja, maka kami akan merasa merugi. Sebaliknya jika proses belajar hanya melahirkan kebahagiaan akhirat saja, maka kami tergolong orang-orang yang tidak beruntung. Kami memilih untuk meraih bahagia di dunia dan akhirat, tidak hanya sekedar selamat di duni dan akhirat. Selamat di dunia dan akhirat belum tentu merasakan kebagahiaan di dunia. Sementara ketika kita merasa bahagia di dunia dan akhirat, sudah pasti melewati kehidupan dunia dan akhirat dengan selamat. Ternyata, menjadi bahagia di dunia dan akhirat itu membutuhkan ilmu.
 

Melalui proses homeschooling, kami ingin anak-anak dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat dengan membentuk mereka menjadi pribadi yang sholih, muslih, hafizh, dan produktif melakukan amal yang bermanfaat. Goal akhir yang ingin kami bentuk melalui proses homeschooling ini adalah manusia pembelajar yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  • Berkomitmen dalam akidah dan ideologi Islam 
  • Berkomitmen dalam syariah 
  • Berkomitmen dalam berakhlak yang sesuai dengan nilai-nilai islam. 
  • Mampu melakukan islah pada dirinya dan orang lainMampu melakukan islah pada lingkungan dan alam sekitar 
  • Mampu melakukan islah pada dunia islam 
  • Mengenal potensi dan mampu memilih peran dalam peradaban 
  • Mengoptimalkan peran kekhalifahan yang di emban untuk memajukan peradaban
Pertanyaannya, kurikulum yang seperti apa yang keluarga kami jalani agar kelak dapat mengantarkan keluarga meraih bahagia di dunia dan akhirat? yaitu, ilmu apa saja yang dapat memberikan :
 

Peningkatan kapasitas intelektual yang membuat kita semakin mengenal kebesaran Allah sehingga dengan itu kecintaan kepada Allah semakin bertambah. Dengan kata lain apabila ilmu tersebut tidak menambah kecintaan kita kepada Allah maka tidak perlu memadatkan kurikulum pembelajaran kami. Sebaliknya, setiap ilmu yang dipelajari sebaiknya dibahas secara mendalam dalam sudut pandang nilai ilahiah sehingga dengannya kecintaan kita kepada Allah akan bertambah.
 

Tambahan pengetahuan yang membuat kita semakin merasa kerdil dihadapan Allah, sehingga dengannya kalian semakin tunduk dan khusuk dalam beribadah kepada Allah. Dengan kata lain apabila ilmu tersebut membuat kita semakin sombong, tidak semakin khusuk dan tunduk kepada Allah, maka ilmu tersebut harus kita tinggalkan. Sebagai contoh, di dunia maya banyak sekali ilmu yang bermanfaat tapi disampaikan oleh lagu-lagu yang nadanya membuat kita lalai dari mengingat Allah. Maka metode seperti ini lebih baik ditinggalkan.
 

Tambahan ilmu yang menumbuhkan kepekaan diri terhadap sebuah masalah, sehingga dengannya muncul kecerdasan sosial dalam diri kita untuk mengambil sebuah peran kekhalifahan dalam kehidupan. Dengan kata lain ilmu yang kita gali tidak sebatas hanya tambahan wawasan dan wacana, tambahkan point materi sedemikian hingga ilmu tersebut bisa diterapkan untuk memecahkan masalah. Sebagai contoh, anak-anak kami dapat lebih menjiwai mata pelajaran "living and non living thing" apa saja yang menjadi kebutuhan dasar makhluk hidup karena setiap hari mereka memiliki tugas mengurus tumbuhan dan hewan peliharaan.

Tambahan informasi yang berbuah keluhuran moral, sehingga dengannya bertambah derajat kita di sisi Allah. Dengan kata lain perbanyak pula wawasan yang menjadikan kita semakin baik akhlaknya dan semakin suci jiwanya seperti wawasan dalam meneladani Rasulullah SAW, para sahabat dan salafus sholeh. Sebagai contoh saat anak-anak mempelajari grammar atau vocabulary konteks kalimat bisa diambil setelah kita membaca cerita yang memuat nilai moral. Dalam homeschooling keluarga kami, setiap hari kami membedah buku yang bercerita tentang hikmah-hikmah seputar kehidupan.


Tambahan pengetahuan yang meningkatkan kualitas kinerja dalam profesi yang kalian emban, sehingga dengannya keberkahan mengalir dalam setiap pekerjaan yang dilakukan. Dengan kata lain mengasah keahlian untuk membuat kita semakin ahli dalam bidang kita. Pelajaran ini lebih serius dilakukan saat anak-anak sudah mulai terlihat memiliki kecenderungan minat dan bakat pada bidang tertentu. Sementara untuk usia dini dan sekolah dasar kami lebih fokus pada memperkaya wawasan dan memberi sekian banyak pengalaman sambil mengamati tipe kecerdasan dan bidang yang diminati anak-anak.

Proses pembelajaran yang mampu memicu perubahan dalam diri kita, sehingga dengannya kalian bersemangat melakukan perubahan sosial. Dengan kata lain setiap kali membahas ilmu sentuhlah jiwa kepemimpinan mereka sehingga mereka memiliki ide dan semangat untuk melakukan perbaikan. Ajak mereka untuk melakukan perubahan kecil di sekitar mereka. harapannya keal mereka bisa menjadi agent of chance.


Tambahan bekal kehidupan yang membuat kita dapat hidup lebih bermartabat dalam sebuah peradaban, sehingga dengannya kita bersemangat membangun peradaban yang bersendikan bilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Dengan kata lain kita Ilmu yang bisa meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Hal ini yang kami harapkan dari sebuah proses melahirkan manusia pembelajar dalam homeschooling keluarga kami. Bagaimana anak-anak tidak pernah berhenti belajar tentang ilmu yang dibutuhkan untuk membuat mereka semakin bermanfaat bagi umat manusia dan dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup manusia.


Pertanyaan selanjutnya yang sering muncul adalah "Lalu metode belajarnya seperti apa? Metode belajar yang kami lakukan sangat beragam yang terpenting adalah bagiamana proses belajar yang dilakukan mampu mengantarkan para murid menjadi :
  • Seorang manusia pembelajar yang berpikir kritis 
  • Mampu mengatasi masalah secara mandiri 
  • Dapat bekerja secara efektif dalam tim 
  • Dapat berkomunikasi secara jelas, serta memiliki pengaruh dalam berkomunikasi 
  • Memiliki kemampuan untuk memilih informasi serta menilai kualitas informasi
Dengan informasi dan berbagai sarana yang ada murid mampu menggabungkan pengetahuan dan melakukan analisa.
Proses belajar tersebut dapat kita asah dalam setiap kegiatan seperti membaca dan mendiskusikan isi bacaan. Rangsang anak untuk bertanya dan menjawab pertanyaan. Rangsang anak untuk memberi pendapat dan mengungkapkan ide. Bahkan ketika kita tidak sengaja membaca buku dengan kualitas informasi yang kurang bermanfaat atau bersebrangan fikroh sekalipun. Rangsang anak berpendapat tentang baik dan buruknya isi bacaan, lalu gali pendapat mereka tentang apa yang seharusnya dianut dalam kehidupan. Proses belajar diatas juga dapat kita asah dengan sering melibatkan mereka dalam proyek-proyek kerja dari mulai hal yang sederhana dan sehari-hari kita lakukan seperti menjaga kebersihan dan kerapihan lingkungan belajar, sampai pada proyek yang memang sengaja kita rancang untuk proses pembelajaran mereka. 

Lalu bagaimana hasil yang kita harapkan dari setiap proses belajar seperti diatas? tentunya jauh dari sekedar kemampuan menjawab soal ujian dengan baik dan benar sehingga mendapat nilai yang baik. Harapannya,
Setiap murid dapat menghasilkan sesuatu yang original
Dapat mengikuti setiap petunjuk dalam proses belajar secara seksama namun mampu melakukan improvisasi
Pada akhirnya mereka mampu menciptakan sesuatu yang praktis, relevan dan bermakna bagi ilmu pengetahuan
Contoh sederhananya, saat anak-anak diberikan proyek art and craft beri kebebasan anak untuk membuat sesuatu yang berbeda bahkan mengembangkan apa yang dicontohkan oleh kita dengan tetap melatih mereka menjalankan petunjuk yang ada. 


Lalu bagimana ruh ini dapat kita implementasikan dalam homeschooling usia dini dan SD?
Dalam kehidupan nyata ternyata kecerdasan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang. Orang-orang yang pintar dengan prestasi akademik yang baik ternyata belum tentu memiliki kecerdasan yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah dalam kehidupan. Terbukti banyaknya pengangguran saat ini berasal dari orang-orang yang telah menempuh pendidikan sarjana. Lalu bagaimanakah proses pendidikan yang mencerdaskan? Mengkompilasi pendapat para ahli, cerdas itu berarti memiliki:
 
  1. Kemampuan menyimpan informasi dalam memori 
  2. Kemampuan mengambil, menggabungkan, membandingkan, dan menggunakan informasi yang dimiliki untuk diterapkan dalam konteks baru dan keterampilan konseptual 
  3. Kemampuan dalam beradaptasi dengan lingkungan 
  4. Kapasitas intelektual yang dibutuhkan untuk dapat bersikap dan berfikir secara rasional serta bertindak secara efektif dalam menghadapi lingkungannya 
  5. Kemampuan untuk memecahkan masalah 
  6. Kemampuan untuk menciptakan hal baru 
  7. kemampuan untuk menemukan atau menciptakan masalah baru yang menjadi peletak dasar munculnya pengetahuan baru
Namun dalam pandangan islam, definisi kecerdasan lebih dalam dari pengertian-pengertian diatas.
Dalam sebuah hadist disebutkan Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah) --> Sunan Ibnu Majah No. 4400
 
Masya Allah, agama islam yang mulia telah secara sempurna mendefinisikan orang yang paling cerdas dari sebuah titik akhir kehidupan. Bertapa sayangnya jika orang-orang yang cerdas dalam definisi yang utarakan para ahli tidak berbuah pada kebahagiaan dalam kehidupan setelah kematian. Oleh karena itu prinsip penting yang harus dipegang oleh seorang muslim adalah apapun proses belajar yang kita lakukan harus berbuah pada upaya mempersiapkan kematian. 

Dari definisi tersebut sangatlah nyata terlihat bahwa pengetahuan kognitif hanyalah salah satu bagian kecil dari proses pendidikan yang mencerdaskan. Maka amatlah disayangkan jika nilai-nilai yang baik dari anak-anak kita, prestasi gemilang dari anak-anak kita, banyaknya materi yang dihafal anak-anak kita, tidak menjadikan mereka memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan apalagi mengharapkan mereka dapat menciptakan hal baru yang bermanfaat bagi manusia. 

Untuk melahirkan manusia yang cerdas, ternyata sangat ditentukan dari bagaimana sikap yang dibangun di awal-awal tahun usia mereka, Sikap yang dibangun ini jauh lebih penting daripada memberikan berbagai pengetahuan kognitif, diantaranya: 


1. Anak dapat menunjukkan semangat dan rasa ingin tahu sebagai seorang pembelajar
2. Anak memiliki daya tahan dalam mengerjakan tugas sampai tuntas dan bersedia mencari bantuan ketika menghadapi masalah
3. Anak bersikap menyenangkan dan kooperatif dalam kegiatan belajar.
4. Anak dapat berinteraksi dengan mudah dengan satu atau lebih anak-anak
5. Anak dapat berinteraksi dengan mudah dengan orang dewasa yang dikenal
6. Anak dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok
7. Anak dapat bermain dengan orang lain dengan cara yang baik
8. Anak bersedia bergiliran dan berbagi mainan
9. Anak dapat membersihkan dan merapihkan lingkungan setelah menggunakannya
10. Anak dapat mencari bantuan orang dewasa bila diperlukan untuk menyelesaikan konflik
11. Anak dapat menggunakan kata-kata dan cara yang baik untuk menyelesaikan konflik
12. Anak dapat mendengarkan dengan pemahaman terhadap arahahan, perintah dan percakapan
13. Anak khususnya usia pra sekolah dapat mengikuti satu sampai dua petunjuk
14. Anak dapat berbicara dengan cukup jelas untuk dipahami tanpa harus memberikan petunjuk kontekstual
15. Anak dapat bercerita berkaitan pengalaman disertai dengan pemahaman tentang urutan peristiwa
16. Anak memiliki minat terhadap kegiatan yang berhubungan dengan membaca
17. Anak mendengarkan dengan antusias saat dibacakan buku
18. Anak dapat menyampaikan kembali informasi yang didapat dari cerita
19. Anak dapat menunjukan urutan cerita melalui gambar secara logis
20. Anak dapat bermain peran dengan benda-benda
21. Anak dapat mengambil peran dalam permainan berpura-pura


Lalu bagaimana tentang kemampuan membaca? Mungkin banyak para orang tua yang merasa panik ketika anak-anak belum bisa membaca saat usia lulus TK. Dalam buku Miseducation Preschool at Risk, David Elkind justru merekomendasikan untuk mulai belajar membaca secara simbolik saat usia anak anak kehilangan gigi susu. Meskipun begitu pada beberapa anak yang mampu dan menunjukkan minat serta melakukan dengan senang, proses belajar membaca bisa dilakukan lebih awal. Hal yang jauh lebih penting dari mengajarkan skill membaca adalah:


1. proses menamkan kecintaan kepada buku dan ilmu
2. Melatih kemampuan anak dalam memahami isi bacaan.
3. Memperluas kosakata melalui kegiatan membaca
4. Memperluas wawasan melalui kegiatan membaca 

Ketidakbijaksanaan dalam mengajari anak-anak membaca justru dapat berakibat menghilangkan fitrah mereka sebagai manusia pembelajar. Fenomena saat ini banyak anak-anak yang mampu membaca tapi tidak mampu menangkap isi bacaan karena kekurangtepatan langkah awal dalam mengenalkan dunia membaca.
Membimbing mereka menjadi seorang manusia pembelajar adalah sebuah investasi yang paling berharga untuk masa depan anak-anak. Karena seorang manusia pembelajar tidak akan pernah berhenti belajar untuk memecahkan permasalhan dan memberikan kebermanfaatan bagi umat manusia. Membentuk anak-anak menjadi manusia pembelajar ternyata cukup dipengaruhi oleh kehidupan awal-awal tahun usia mereka. 


Beberapa hal yang perlu kita lakukan diawal-awal tahun usia mereka agar mereka menjadi manusia pembelajar yang cerdas ternyata sangatlah sederhana, diantaranya: 

1. Perbanyak menyusui secara langsung tanpa bantuan botol
2. Perbanyak diskusi tentang lingkungan sekitar
3. Perbanyak melibatkan mereka dalam pekerjaan sehari-hari
4. Perbanyak melatih mereka melakukan keperluan dirinya sendiri dan menyelsaikan masalah yang mereka hadapi
5. Perbanyak kegiatan membaca buku bersama mereka dan mendiskusikan isi bacaan
6. Perbanyak olahraga bersama mereka
7. Perbanyak melakukan kegiatan bermain aktif
8. Perbanyak cinta dan kasih sayang
9. Perbanyak membaca al quran sejak dalam kandungan
10. Perbanyak doa dan sedekah, insya Allah


Proses belajar seorang anak diusia dini dapat dilakukan secara alami tanpa terpisah dari kegiatan pengasuhan sehari-hari, diantaranya melalui: 


A. Berbicara
Anak belajar bahasa melalui proses mendengar orang disekitarnya berbicara. Saat ia mendengar ia belajar kata baru dan berusaha memaknai artinya. Ia belajar tentang dunia di sekitarnya serta pengetahuan-pengetahuan dasar yang penting untuk diketahui seseorang. Kegiatan berbicara merupakan kegiatan pra membaca yang akan sangat membantu seorang anak untuk lebih memahami apa yang kelak ia akan baca. Diskusi dengan anak merupakan proses awal dalam belajar membaca seorang anak di usia bayi atau balita. Anak akan menemukan bahwa bahasa dan komunikasi merupakan perngorganisasian kata menjadi sebuah kalimat. Semakin sering seorang anak diajak berbicara maka semakin banyak koskata yang mereka miliki.
Tips berbicara dengan bayi dan balita
- kegiatan berbicara bukan berarti kita terus berbicara sementara anak mendengarkan. Pastikan anak memiliki banyak kesempatan untuk berbicara kepada kita.
- respon setiap kata yang disampaikan seorang anak meski belum fasih pengucapannya dengan memperluas pembicaraan.
- perkuat perbendaharaan kata bayi kita dengan menyebutnya berulang-ulang dan mengembangkannya pada kalimat
- jika kita menggunakan dua bahasa di dalam rumah, bicara pada bayi dengan bahasa yang paling kita kuasai. Hal ini akan memberi kesempatan bagi kita untuk menjelaskan sesuatu secara lebih fasih.


B. Memperkenalkan beragam bunyi
Lagu adalah salah satu cara bagi bayi dan balita dalam menambah perbendaharaan kata dan perkembangan kemampuan berbahasa. Bagi para orang tua yang berpendapat untuk tidak sama sekali memberikan nyayian kepada anak, berikan lantunan al-quran dari berbagai qori sehingga anak dapat mendengar berbagai macam suara. 


C. Membaca buku
Kegiatan membaca buku bersama adalah cara yang sangat penting untuk mempersiapkan anak kelak dapat membaca. Kegiatan membaca bersama akan menambah perbendaharaan kata dan pengetahuan seorang anak. Ini juga membatu seorang anak melihat bagaimana bentuk tulisan dan memahami fungsi buku. Namun yang jauh lebih pening dari kegiatan membaca adalah menanamkan minat baca anak. Anak yang menikmati kegiatan membaca biasanya lebih termotivasi untuk belajar membaca sendiri.
Tips membaca bersama balita:
- Jadikan buku sebagai investasi masa depan keluarga
- Jadikan kegiatan membaca menjadi kegiatan harian keluarga
- Buatkan area khusus membaca yang nyaman
- Berikan bayi buku dengan bahan yang tidak mudah rusak sehingga ia bisa melihat-lihat sendiri.
- Sebelum membaca, ajak anak menerka isi bacaan dari gambar sampulnya.
- Bacakan ia cerita bergambar dari buku dengan menunjukkan gambarnya.
- Bacakan buku yang sama secara berulang untuk membangun kosakata mereka dalam berbahasa.
- Sesekali bacakan ia cerita yang lebih panjang tanpa buku bergambar.
- Kita juga dapat merekam proses membacakan cerita kepada anak-anak berikut respon interaktif mereka sehingga rekaman tersebut dapat kita putar kembali untuk mereka.
-Ketika bayi kita beranjak menjadi balita, kita mulai dapat bertanya tentang isi sebuah cerita serta membangun diskusi sederhana.
- Gunakan buku untuk mengenalkan kosakata yang tidak umum digunakan dalam pembicaraan sehari-hari
- Kita juga dapat mengenalkan alfabet dengan cara membunyikannya. Kita dapat membunyikan huruf-huruf awal pada sebuah kata


D. Menulis
Kegiatan menulis dan membaca merupakan kegiatan yang beriringan. Keduanya berkaitan dengan bahasa dan merupakan proses pemberi informasi. Anak balita bisa mulai melakukan kegiatan pra menulis melalui kegiatan mencoret-coret. Berikut tips agar kegiatan menulis seorang anak dapat berlangsung lebih alamiah:
- orang tua tidak perlu memaksa anak-anak untuk melakukan kegiatan menulis atau menggambar.
- Orang tua dapat menyediakan fasilitas yang mendukung dan menawarkan berbagai pilihan kegiatan positif termasuk menggambar.
- Untuk tahap awal anak-anak baru sekedar belajar memegang alat tulis dan mencoret abstrak. Coretan dan gambar adalah kegiatan pra menulis yang bermanfaat kedepannya. Apresiasi setiap goresan yang mereka buat dengan membahas cerita dibalik gambar yang mereka buat.
- Tulislah keterangan cerita mereka didalam gambar yang mereka buat agar mereka memahami bahwa ada hubungan antara bahasa yang diucapkan dengan yang dituliskan.
- Kegiatan pra menulis juga dapat dilakukan tanpa perlu menunggu mereka mampu memegang alat tulis. Kita bisa melatih motorik halus mereka dengan memberikan bahan finger paint, biarkan anak mencorat-coret dan menggambar abstrak dengan jari mereka. Pengenalan alfabet juga bisa dilakukan dengan menggerakan jari kita diatas pasir pantai, tanah, atau menulis di langit.
- Jadikan kegiatan ini sebagai pilihan yang ditawarkan saay anak terlihat bosan dan bingung memilih kegitan. "Adek mau gambar?"
- Sediakan bahan dan alat yang dibutuhkan, bebaskan ia memilih tema yang ia inginkan atau beri ia inspirasi tema terkait dengan materi yang sedang dibahas. Proses menggambar juga menjadi sarana mengungkapkan ide mereka.
- Apresiasi terhadap gambar seorang anak tidak perlu harus diwujudkan dengan pujian terhadap karyanya, bahkan sebagian orang berpendapat untuk menghindarinya. Apresiasi dapat dilakukan dengan bertanya tentang ide dibalik gambar kemudian mendiskusikannya. 

E. Bermain
Anak belajar banyak tentang bahasa melalui permainan. Bermain membantu seorang anak memahami simbolisasi sehingga mereka bisa mengerti bahwa bahasa lisan dan tulisan memiliki kaitan dengan objek nyata dan pengalaman. Bermain juga membantu seorang anak mengekspresikan diri mereka dan menuangkannya dalam bentuk kata-kata.
Tips bermain agar kegiatan bermain menjadi kegiatan belajar yang alamiah:
- Berikan mereka waktu yang cukup untuk bermain. Terkadang permainan terbaik bagi anak adalah permainan yang tidak terstruktur saat mereka dapat menggunakan imaginasi mereka dan membuat cerita terhadap permainan yang mereka lakukan.
- Ajak anak berdiskusi tentang cerita dibalik permainananya, tanpa perlu banyak mengarahkan perminan mereka kecuali bila benar-benar dibutuhkan, misal karena alasan keamanan.
- Sediakan sebanyak-banyaknya pilihan permainan yang bisa ia mainkan. Berikan ia kebebasan memilih mainan dan bagaimana cara ia ingin memainkannya. Lalu kembangkan permainan mereka menjadi sarana pengetahuan yang lebih bermakna dengan mengkaitkannya dengan materi pelajaran dalam kurikulum seperti sains dan matematika.
- Ajak mereka bermain drama terhadap cerita yang sedang dibahas, baik cerita karangan mereka atau pengembangan dari kegiatan membaca buku

 

Pertanyaan selanjutnya yang sering dilontarkan oleh para orang tua adalah tentang bagaimana mengajarkan agama kepada anak-anak. Kenyataannya prestasi akademik seorang anak dalam mata pelajaran agama belum tentu berbanding lurus dengan pengamalan nilai agama dalam kehidupan mereka. Praktek kehidupan beragama dalam lingkungan seorang anak sangat menetukan pemahaman dan pengamalan nilai agama seorang anak. 

Berikut metode yang bisa digunakan dalam mengenalkan Allah dan islam pada fasa awal-awal usia mereka diantaranya:
1. Membangun lingkungan yang memberi pengalaman religius bagi anak
2. Memberikan teladan pengamalan agama dan kedekatan kepada Allah didalam rumah
3. Mengkaitkan sekian banyak pengalaman dan kejadian dengan nilai-nilai Ilahiah dan memperdalam pengenalan mereka akan sifat-sifat Allah
2. Membaca buku cerita yang bernuansa islam sesuai dengan tahapan usianya
3. Membaca kisah nabi yang disajikan dalam buku yang dirancang sesuai dengan tahapan usianya
4. Memperdengarkan ayat-ayat Al-quran dan mengenalkan bahwa Al-quran memuat pesan Allah kepada manusa. Misalnya ketika kita ingin memberi nasihat kepada anak kita, katakanlah "Kata Allah di dalam Al-quran........" Mungkin pada tahap awal redaksi perintah dari All-Quran belum diberikan secara mendetail. Tapi minimal mereka mengetahui bahwa informasi tersebut didapatkan kita dari Al-Quran. Sejalan dengan pertambahan usianya, kita bisa melengkapi diskusi-diskusi kita bersama anak-anak dengan membacakan langsung ayat al-quran beserta artinya.


Apa saja yang harus diperhatikan dalam memilih materi dan metode penyampaian?
1. Perhatikan tahapan belajar anak
2. Perhatikan kecerdasan majemuk yang dimiliki anak
3. Perhatikan tempramen dan kepribadian anak
4 Perhatikan gaya belajar anak (audia, visual. kinestetik) 


Dari sekian filosofi yang dianut oleh keluarga kami, berikut cabang ilmu yang sehari-hari dilaksanakan dalam homeschooling keluarga kami
1. Matematika
2. Languange art yang terdiri dari grammar/language lesson, Phonic, Spelling, Writing dan Reading
3. Agama Islam
4. Al-Quran
5. Olah Raga
6. Proyek rutin (mengurus rumah, hewan dan tumbuhan)
7. Sosialisasi
8. Pendalaman hobby (bagi yang sudah memiliki kecenderungan minat dan bakat)
9. Pendalaman materi melalui praktek atau alat peraga
10. Bermain 


Untuk kegiatan bulanan atau mingguan, anak-anak biasanya melaksanakan kegiatan sbb:
1. Kunjungan edukasi
2. Belajar dari ahli
3. Bahasa Arab 


Dalam homeschooling usia sekolah dasar di keluarga kami tidak ada pelajaran khusus science atau social study yang berjenjang seperti sekolah pada umumnyua. Untuk mata pelajaran science, social study dll masuk dalam kegiatan "reading comprehensive" setiap hari sehingga pembahasannya bersifat tematik dan menyeluruh. Kami membiasakan membedah buku setiap hari dengan tema yang cenderung bebas sesuai dengan keinginan belajar anak-anak. Buku yang dibedah setiap hari biasanya terdiri dari 1 buku non fiksi dan buku fiksi yang berkisah tentang kisah kehidupan dan hikmah. Mata pelajaran yang terstruktur hanyalah matematika dan mata pelajaran yang berkaitan dengan skill penguasaan bahasa, membaca dan menulis. Kami menggunakan buku yang sesuai jenjang sekolah hanya untuk latihan membaca anak-anak karena biasanya pembahasan materi dari buku yang tersedia di kurikulum sekolah belum cuku[ untuk memuaskan rasa ingin tau keluarga kami dalam mencari ilmu.


Referensi
Ahammiyattu Ma'rifatullah-Materi Tarbiyah
Ath-Thariiq ila Ma'rifatullah-Materi Tarbiyah http://en.m.wikipedia.org/wiki/Intelligence http://www.greatschools.org/students/academic-skills/1207-kindergarten-benchmarks.gs http://www.icanteachmychild.com/71-things-your-child-needs-to-know-before-kindergarten/
Miseducayion preschool at risk; David Elkind http://www.natural-learning.net/000170.html
Well Trained Mind, Bauer, Susan Wise; Wise, Jessie Www.everychildreadytoread.org
How Children Learn


parenting, homeschooling, Apa itu homeschooling, cara belajar homeschooling, homeschooling muslim, kiki barkiah, keluarga kiki barkiah, mengenal homeschooling, ilmu parenting, keluarga pembelajar, belajar parenting, pola asuh, pola belajar anak homeschooling, sekolah rumah